Ketika Laki-Laki Hadir dalam Pengasuhan

Selasa, 30 Juni 2026

Ada fenomena baru yang terlihat saat pengambilan rapor siswa tahun ini. Di tengah momen tersebut, semakin banyak terlihat ayah yang turut hadir mendampingi anak-anak mereka, mulai dari jenjang TK hingga SMA. Kehadiran ini menjadi bagian dari semangat Gerakan Ayah Mengambil Rapor (GEMAR) yang kembali ramai diperbincangkan sepanjang bulan Juni. 

Berdasarkan surat Edaran Menteri no 14 Tahun 2025 Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga/BKKBN) telah meluncurkan GEMAR (Gerakan Ayah ambil Rapor). Kebijakan ini lahir sebagai respons terhadap hasil Pendataan Keluarga (PK) 2025 yang menunjukkan masih tingginya angka fatherless di Indonesia. Berdasarkan data tersebut, sebanyak 25,5% anak di Indonesia mengalami kondisi fatherless.

Berbeda dengan yatim yang kehilangan ayah secara lahiriah, fatherless adalah kondisi psikologis di mana seorang anak kehilangan keterlibatan emosional, pengasuhan, dan pendampingan dari sosok ayah. Hal ini seringkali dimulai dari minimnya pola komunikasi antara ayah dan anak, absennya peran pengasuhan, atau tidak adanya respons emosional karena peran ayah yang dianggap hanya untuk memenuhi kebutuhan ekonomi adalah faktor yang membuat seorang anak dapat mengalami kondisi fatherless. Pola tersebut diturunkan antar generasi karena masih adanya stereotip masyarakat Indonesia yang memandang afeksi ayah terhadap anak bukan suatu hal yang umum dilakukan. 

Gerakan Ayah mengambil Rapor (GEMAR) patut kita apresiasi karena masyarakat kita masih kerap memberi stigma yang menentukan peran pengasuhan sebagai salah satu beban domestik yang hanya diberikan kepada perempuan. Dengan adanya GEMAR kehadiran ayah di sekolah menjadi pengingat bahwa pendidikan anak merupakan tanggung jawab bersama.

Namun, apakah GEMAR sudah benar-benar menjawab kebutuhan peran Ayah dalam tumbuh kembang dan pendidikan anak? Barangkali keterlibatan peran laki-laki dewasa dalam dunia pendidikan tidak hanya dapat dilihat dari peran ayah yang mengambil rapor saja, melainkan mereka yang hadir dalam proses tumbuh kembangnya juga, seperti halnya yang dilakukan oleh Tamariska Eka Wardana, atau yang akrab disapa Pak Tama.

Setiap pagi, pak Tama menyapa anak-anak di KB & TK Padamara, Wonosari, Gunungkidul. Seperti hiasan di dinding ruang kelas itu, ia telah memberi warna di dunia pendidikan inklusif karena peran yang tidak biasa bagi mayoritas laki-laki di Indonesia: menjadi guru di sebuah Kelompok Bermain (KB).

Mendidik Anak Bukan hanya Sekedar Hadir, tetapi juga Belajar Bersama

Sebagai satu-satunya guru laki-laki di KB & TK Padamara, Gunungkidul, pak Tama mendampingi sepuluh anak usia 2–4 tahun, termasuk seorang anak berkebutuhan khusus.

Mulanya, pak Tama belum pernah mendapatkan pengetahuan dan kapasitas dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus. Ini merupakan pengalaman pertama bagi dirinya untuk menjadi tenaga pendidik di sebuah KB inklusif. Ia menyadari bahwa pada saat itu dirinya masih memiliki pemahaman yang keliru mengenai anak berkebutuhan khusus (ABK). Ia pun belum mengerti bahwa dalam mendampingi anak berkebutuhan khusus ada beberapa hal yang harus diperhatikan, karena setiap anak memiliki kebutuhan yang berbeda antara satu dengan yang lainya.

Namun dari kebingungan tersebut justru menumbuhkan semangat pak Tama untuk terus belajar. Salah satunya melalui berbagai pelatihan yang difasilitasi Learning Unlock Project bersama Pusat Rehabilitasi YAKKUM, pak Tama mendapatkan banyak hal baru yang membuat dirinya mulai memahami cara mendampingi anak berkebutuhan khusus. Dalam pelatihan ini pak Tama banyak belajar tentang  Disability Inclusive Development (DID), manajemen kelas inklusif, deteksi dini anak berkebutuhan khusus, hingga kurikulum inklusif.

Selesai pelatihan, langsung saya praktikkan kepada siswa ABK Speech delay dengan mengajarkan kosakata kepada anak tanpa memenggal suku kata tapi pengucapan kata secara utuh, dan ini berhasil saat ini anak ini sudah lancar bicara kalau bahasa jawanya disebut ceriwis.”

Ujar pak Tama, ketika ia diminta untuk menceritakan hasil yang ia dapatkan selama mendapatkan pelatihan. Cerita ini pun menunjukan bahwa semangatnya untuk terus belajar menciptakan pendidikan yang inklusif dapat menciptakan dampak yang besar.

Peran Laki-Laki dalam Pengasuhan

UNICEF menyebutkan masa anak usia dini atau 1000 hari pertama kehidupan merupakan periode yang menentukan kualitas perkembangan anak di masa depan. Pada usia dini, seorang anak membutuhkan rasa aman, stimulasi belajar, serta interaksi sosial. Keterlibatan ayah adalah salah satu sumber daya yang besar bagi perkembangan kognitif, kemampuan perilaku, serta regulasi emosi anak, namun seringkali sumber ini belum dimanfaatkan secara maksimal. Data yang disebutkan oleh Center for Life-Span Development (CLSD) menunjukkan bahwa stimulasi anak usia dini masih banyak dilakukan oleh ibu dibandingkan dengan ayah di beberapa negara, termasuk Indonesia.

Dalam pendidikan inklusif, peran laki-laki juga diperlukan bukan hanya sekedar hadir, tetapi juga saling belajar agar dapat mendukung anak untuk tumbuh dan berkembang dengan percaya diri dan dengan potensi terbaik yang dimilikinya. Keterlibatan peran laki-laki dewasa justru dibutuhkan dalam interaksi sehari-hari, bukan hanya seremoni saja. Dalam konteks pendidikan inklusif, keterlibatan laki-laki seperti yang dilakukan Pak Tama menjadi contoh bahwa pengasuhan bukan hanya tugas perempuan saja, melainkan kemauan untuk hadir, belajar, dan memahami kebutuhan setiap anak, termasuk anak berkebutuhan khusus. Dengan lebih banyaknya laki-laki yang mau belajar untuk turut serta mengambil bagian dalam pengasuhan, maka stereotip bahwa pengasuhan dan pendidikan anak usia dini hanya tugas bagi perempuan  akan terkikis. Kisah Pak Tama menunjukkan bahwa laki-laki juga dapat menjadi figur pengasuh yang berperan penting dalam menciptakan lingkungan belajar yang inklusif dan ramah bagi semua anak.

 

30 JUNI 2026

Penulis: Nadine Kusuma Pangastuti