Layanan Kesehatan Jiwa Belum Terintegrasi, PRYAKKUM Gandeng Pemerintah Kembangkan Peta Layanan Berbasis Digital
Jakarta, 8 April 2026 - Pusat Rehabilitasi YAKKUM (PRYAKKUM) berkolaborasi dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Kementerian Kesehatan RI, Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, dan University of Sydney dengan dukungan dari KONEKSI menyelenggarakan Kick-Off Meeting Program One Map for Mental Health Atlas (OMMHA) di tingkat Nasional. Kegiatan ini dihadiri oleh dr. Imran Pambudi, MPHM Direktur Pelayanan Kesehatan Kelompok Rentan, Kementerian Kesehatan RI, Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, Kepala Pusat Riset kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional, dan perwakilan peserta sekaligus penanggap dari Komisi Nasional Disabilitas, REMISI, dan KPSI.
dr. Imran Pambudi dalam paparannya menjelaskan bahwa selama ini terdapat perbedaan yang cukup signifikan antara bidang penyakit menular dan kesehatan jiwa. Pada penyakit menular, ketersediaan evidence based dari dalam negeri, relatif banyak. Sementara itu, pada bidang kesehatan jiwa, terutama dalam perspektif public health atau public mental health, ketersediaan data dan penelitian masih sangat terbatas.
“Saya ingin menekankan bahwa penelitian ini memiliki potensi besar untuk menjadi model yang berkualitas tinggi, bahkan dapat dicontoh secara global”, tuturnya.
Dr. Wahyu Pudji Nugraheni, Kepala Pusat Riset kesehatan Masyarakat dan Gizi, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) dalam sambutannya menyampaikan tantangan kesehatan di Indonesia masih sangat besar, antara lain adanya keterbatasan, kesenjangan layanan, serta sistem informasi layanan kesehatan jiwa yang belum terintegrasi.
“BRIN menyambut baik inisiatif ini dan berharap kick-off meeting ini menjadi awal yang kuat bagi proses penelitian yang kolaboratif, bermutu, dan memberikan dampak nyata bagi bangsa”, tegasnya.
Lebih lanjut Dr. Wahyu berharap penelitian ini dapat mendukung penguatan layanan kesehatan, mengurangi kesenjangan akses dan pemanfaatan layanan, memperbaiki sistem informasi, serta mendorong pendekatan kolaboratif lintas sektor.
Kegiatan yang melibatkan sekitar 50 peserta perwakilan dari Kemenko PMK, Kementerian Kesehatan, Kementerian Sosial, Komisi Nasional Disabilitas, BRIN, Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Tengah dan Kabupaten Kebumen, serta media dan organisasi masyarakat sipil ini bertujuan untuk mensosialisasikan desain dan tahapan penelitian OMMHA sekaligus membangun komitmen dan dukungan lintas sektor.
Ignatius Praptoraharjo, Ph.D, peneliti utama OMMHA PRYAKKUM menjelaskan penelitian ini menggali jenis layanan kesehatan jiwa yang tersedia, pemanfaatannya dan apakah layanan tersebut sudah efektif dan optimal.
“Kami memulai penelitian ini dengan memilih Kebumen sebagai lokasi pembelajaran awal (learning site), dan nantinya kami berharap bisa direplikasi di wilayah-wilayah lain”, ungkapnya.
Prof. Hans Pols, Research Advisor OMMHA dari University of Sydney yang hadir melalui zooom menekankan bahwa dalam penelitian ini penting sekali untuk melibatkan konsumen yaitu mereka yang memiliki pengalaman langsung dan kondisi kesehatan mental (people with lived experiences).
“Menurut saya kelompok ini dapat membantu mengidentifikasi sumber daya dan layanan yang mungkin tidak terlihat”, tuturnya
Hal yang sama juga disampaikan Dr. Dante Rigmalia Komisi Nasional Disabilitas bahwa keterlibatan penyandang disabilitas psikososial dalam riset ini sangat penting.
“Kami mendorong agar penyandang disabilitas mental, baik psikososial maupun perkembangan, dapat dilibatkan secara bermakna dalam proses penelitian ini. Suara dan pengalaman mereka sangat penting untuk memastikan bahwa hasil riset benar-benar merepresentasikan kebutuhan mereka,” ujarnya.
M. Aditya Setiawan, Program Manager Pusat Rehabilitasi YAKKUM, menyampaikan sejak tahun 2017, Pusat Rehabilitasi YAKKUM telah bekerja pada isu kesehatan jiwa, khususnya pendekatan kesehatan jiwa berbasis masyarakat. Penelitian OMMHA ini jadi bagian mendukung penguatan sistem layanan dan kebijakan kesehatan jiwa di tingkat nasional.
“Penelitian ini telah direncanakan sejak tahun 2024. Namun, karena berbagai dinamika, proses penelitian baru dapat dimulai pada September 2025”, ungkapnya.
Aditya melanjutkan bahwa penelitian ini tidak bisa dilakukan sendiri, tapi perlu kolaborasi agar hasilnya maksimal dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan pengambil kebijakan.
“Semoga kolaborasi antara Pusat Rehabilitasi YAKKUM, BRIN, Kementerian Kesehatan, serta seluruh mitra dapat berjalan dengan baik dan memberikan manfaat nyata bagi penguatan sistem kesehatan jiwa di Indonesia”, ungkapnya
Penulis: Birgitta Anggre Hapsari & Chamida M
8 April 2026