Bercocok Tanam jadi Sebuah Terapi bagi Dika

Rabu, 01 Desember 2021

Di  Kelurahan Gunung Ketur kecamatan Pakualaman, ada perempuan caregiver sebagai penerima manfaat program Lotus Ketahanan Pangan. Dia adalah nur Hidayati (49), ibu seorang remaja dengan disabilitas psikososial (ODDP) bernama Dika Rizqiawan (21), biasa disapa dengan Dika.

Nur Hidayati, ibu ini telah berhasil mendampingi putranya memanfaatkan lahan di depan rumah mereka dengan menanam berbagai sayur mayur.

Sedang Dika adalah remaja yang bermasalah dengan kesehatan mentalnya. Remaja ini bisa tiba-tiba marah-marah, berteriak-teriak tanpa sebab. Sebagaimana dituturkan oleh Team Yakkum dan Kader Pendamping Wilayah Gunung Ketur, Minggu (26/7). Problem masa lalu Dika berpegaruh terhadap perkembangan mental dan emosional, berikut sikap dan perilakunya. 

Perubahan perilaku

Namun demikian, perubahan positif terlihat paska Dika menjadi penerima program Lotus.  Dika tidak lagi sering marah-marah dan berteriak-teriak. Dia lebih aktif dan rajin bercocok tanam memanfaatkan lahan di depan rumah. Bahkan, Dika sering kali berinisiatif membeli polibag sendiri, membeli sekam, sekaligus bibit buah-buahan di Pilahan Kecamatan Kotagede, Yogyakarta.

Benar saja, di halaman rumah Dika tidak hanya terdapat tanaman sayur mayur yang ditanam di polibag dan wall plant. Tetapi ada tanaman buah strawberry yang dia tanam di beberapa polibag, yang diletakkan di sudut sebelah kanan halaman rumahnya.

Perubahan positif itu bisa mewujud oleh karena orang tua dan keluarga yang mau memberikan dukungan bagi Andika. Bahkan, dukungan dan penerimaan tak hanya diperoleh Dika dari orang tua dan keluarga, melainkan juga dari masyarakat di wilayah  tempat tinggalnya.

 

“Dika selalu kami libatkan dalam setiap kegiatan. Hal ini bertujuan agar Dika bisa mengisi waktunya dengan berbagai kegiatan. Sehingga dia tidak sempat melamun, yang berdampak negatif pada mental dan perilakukanya,” ungkap Dwi, kader pedamping wilayah.

Atas inisiatif sendiri, Dika pun berencana membeli paranet. Yakni  media berupa jaring-jaring berbahan plastik, sebagai pengaman tanaman dari gangguan hama. Pasalnya, berbagai jenis tanaman sayur dan buahnya dimakan hama tikus dan keong (siput darat), yang sebelumnya tidak terpikirkan di awal program.

Namun, saat ini cara mencegah dan membasmi hama dengan bahan alami telah didiskusikan antara Tim Yakkum dengan pelatih dan kader wilayah.

Dari progres perkembangan mental dan perilaku Dika, dapat disimpulkan bahwa kegiatan bercocok tanam menjadi satu terapi mental bagi Dika. Satu cara sederhana, yakni berkebun, namun memberi manfaat signifikan. 

Sebagaimana dirilis di salah satu website dengan alamat surel: https://www.halodoc.com/artikel/berkebun-bisa-bantu-mengurangi-stres-ini-faktanya, salah satu manfaat yang bisa didapat dari berkebun adalah merawat kesehatan mental. Bercocok tanam bisa menjadi salah satu cara mengurangi perasaan tertekan atau stres. Sebab, aktivitas ini bisa membantu tubuh lebih rileks, sehingga pikiran menjadi lebih tenang dan terhindar dari stres.