Akhirnya Aku Mendapatkan Hidupku Kembali

Senin, 21 Oktober 2019

 “Akhirnya aku mendapatkan hidupku kembali. Orang – orang disekitarku mau menerima aku apa adanya setelah mereka terlibat dalam rehabilitasi jiwa berbasis masyarakat. Saat ini aku mampu menjadi seorang pengajar Bahasa Inggris dan menjadi narasumber di berbagai acara. Yang lebih penting lagi saat ini aku merasa mampu melakukan hal – hal yang tidak dapat aku bayangkan sebelumnya”.

Desty Endah N adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Desty, sapaannya sehari-hari, merupakan alumni Universitas Negeri Yogyakarta jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di tahun 2002. Saat ini, Desty bekerja sebagai guru ekstra kulikuler Bahasa Inggris di SD Negeri Temon. Pekerjaan yang ia tekuni saat ini sesuai dengan minat dan bakatnya. Desty sangat luwes dan mahir dalam mengajar anak-anak didiknya. Dengan sepeda motornya, Desty mengawali hari dengan berangkat bekerja esok hari layaknya orang pada umumnya. Tak banyak orang tau cerita dibalik kembalinya kepercayaan diri dan suksesnya kehidupan Desty yang sekarang menjadi seorang guru ekstra kulikuler Bahasa Inggris di sekolah dasar dan Pembicara diberbagai acara bertema Kesehatan Jiwa.

Desty mengalami halusinasi tepat setelah dirinya menyelesaikan skripsi berjudul “Improving Pronunciation Skill for Students Grade 8 in SMP 2 Wates” dan sedang dalam masa menyiapkan wisuda S1-nya. Halusinasi pertama muncul saat dirinya sedang mengendarai motor menuju rumahnya di daerah Temon, Kulon Progo. Aktivitas keseharian Desty seketika terhenti dengan sakit yang ia derita. Dengan segera, keluarga membawanya berobat ke Rumah Sakit Umum Daerah Wates. Sepulangnya dari Rumah Sakit Umum Daerah Wates, Desty berangsur-angsur pulih dari sakitnya dan dapat melakukan aktivitas kembali. Karena dirinya merasa sudah pulih, Desty berhenti mengkonsumsi obat, namun hal itu menghasilkan kekambuhan dalam dirinya.

Bertahun-tahun aktivitas Desty hanya dilakukan di dalam kamar. Desty berhenti bersosialisasi dengan teman-teman dan masyarakat sekitar akibat depresi dan stress yang ia derita. Pada tahun 2017, kami bertemu dengan Desty dan ia menjadi klien dampingan Pusat Rehabilitasi YAKKUM melalui program Kesehatan Jiwa. Desty mulai kembali mengkonsumsi obat dan mengikuti serangkaian kegiatan rutin yang diselenggarakan oleh  Pusat Rehabilitasi YAKKUM seperti SHG (Kelompok Swabantu) dimana kami bekerja sama dengan desa, dan Terapi Aktivitas Kelompok yang bekerja sama dengan Puskesmas. Dengan adanya SHG dan TAK, Desty tidak hanya dapat bersosialisasi dengan teman-teman disabilitas psikososial lainnya dan kader-kader kesehatan jiwa, tapi Desty juga bisa mengembalikan kepercayaan diriya yang sudah lama hilang. Dari kegiatan-kegiatan itu pula, Desty juga mendapatkan bekal berupa pelatihan, seperti pelatihan penanggulangan bencana, pelatihan memasak, pelatihan hospitality di hotel, dan berbagai pelatihan lainnya.

Berbagai kegiatan tersebut membantu Desty untuk kembali pulih dan dapat produktif kembali dengan tetap mengkonsumsi obat secara rutin. Kunci dari kembalinya kepercayaan diri Desty adalah dukungan penuh dan bantuan dari keluarga, kader Kesehatan Jiwa, Community Officer Pusat Rehabilitasi YAKKUM, perangkat desa, dan juga masyarakat sekitar.

“Membantu sesama manusia itu merupakan kewajiban kami. Kami merasa kasihan kalau ditempat-tempat lain hanya ingin mencoba saja kok tidak diperkenankan. Saya memberikan kesempatan ketika ia mau mencoba dan mencoba, tetapi pasti harus dalam pengawasan. Pengawasan dari Pusat Rehabilitasi YAKKUM.” – Kepala Sekolah SD Negeri Temon

Kepercayaan diri Desty kembali dapat diraih seiring terbukanya masyarakat dalam menerima orang dengan disabilitas psikososial. Desty adalah salah satu bukti orang dengan disabilitas psikososial dampingan kami yang mampu berdaya. Desty bahkan sekarang sering menjadi pembawa acara disetiap kegiatan SHG dan TAK, serta menjadi pembicara diberbagai pertemuan dan pelatihan kesehatan Jiwa bagi Perangkat Desa dan Tokoh Masyarakat di daerah Temon, Kulon Progo.

“Terima kasih kepada Pusat Rehabilitasi YAKKUM yang telah memfasilitasi saya serta teman-teman dengan disabilitas psikososial lainnya sehingga saya bisa kembali meraih percaya diri dan bisa kembali mengajar sesuai dengan apa yang saya cita-citakan. Terima kasih.” - Desty

Bukan kasihan yang orang dengan disabilitas butuhkan, tetapi kesempatan dan penerimaan.