Aqila

Selasa, 11 November 2014

Aqila Febriana Rahmawati, yang tinggal di Gunung Kidul diadopsi oleh pasangan Jumanto dan Robiyati sejak anak ini lahir. Pasangan ini sudah 18 tahun tidak memiliki anak. Sayangnya bayi adopsi yang sekarang berusia 3 tahun ini menderita Cerebral Palsy dan kondisi fisiknya masih seperti bayi. Ia belum bisa duduk, anggota badannya mengalami kelemahan dan tidak bisa diajak berkomunikasi. Setiap hari anak ini hanya dalam gendongan ibunya, tanpa bisa melakukan aktivitas apapun. Sementara ayahnya sibuk dengan pekerjaannya sehingga keterlibatan dalam merawat anaknya sangat terbatas.

Awalnya Ibu Rohbiyati datang ke Posko atas kemauannya sendiri untuk mendapatkan bantuan penanganan medis bagi anaknya. Dan seperti biasanya setiap pasien dan keluarga selalu diberikan penjelasan tentang kecacatan  oleh petugas medis yang terdiri dari Dokter dan Fisioterapi, yang kemudian dilanjutkan dengan pendampingan oleh Petugas psikososial. Ketika medapatkan informasi bahwa kecacatan anaknya tidak bisa disembuhkan, reaksi pertama yang muncul dari si ibu adalah marah dan tersinggung. Selanjutnya ibu memutuskan untuk tidak lagi datang ke Posko. Namun beruntung petugas Psikososial sempat menyarankan Ibu Rohbiyati untuk mencari sumber informasi lain tentang kecacatan anaknya.

Rupanya rasa ingin tahu si ibu mendorongnya untuk mencari informasi tentang Cerebral Palsy melalui internet yang dibantu oleh suaminya. Informasi yang mereka dapat tidak berbeda dengan informasi yang diberikan oleh petugas YAKKUM. Akhirnya Aqila dibawa lagi ke Posko oleh ibunya untuk mendapatkan terapi. Selama proses treatment, pendampingan dan edukasi ibu ini sangat antuasias dan kooperativ.

Hasil dari edukasi yang rutin diberikan akhirnya ibu mampu melakukan terapi secara mandiri di rumah. Bahkan ia mulai bisa melibatkan suami yang selama ini kurang perhatian dalam merawat dan menerapi anaknya secara rutin. Kini Aqila mulai jarang datang ke Posko karena orang tua sudah mampu melakukan rehabilitasi bagi anaknya. Hanya ketika ada masalah mereka datang untuk berskonsultasi dengan Dokter, Fisio atau Petugas psikososial.

Perkembangan yang bagus dalam keluarga ini adalah, mereka mampu menerima kecacatan anaknya dengan besar hati. Bahkan mereka tidak merasa malu lagi untuk membawa anaknya keluar berinteraksi dengan masayarakat. Bahkan sang ibu tanpa ragu memberikan penjelasan tentang kecacatan pada orang lain ketika mendapatkan pertanyaan. Atau terkadang si ibu memberikan saran-saran tertentu pada keluarga lain yang memiliki anak dengan Cerebral palsy seperti yang diderita anaknya. “ Sekarang anak saya sudah mulai bisa duduk dan kekakuan mulai berkurang. Tetapi manfaat yang paling penting bagi saya adalah saya bisa mendapatkan pemahaman tentang kecacatan. Hal ini penting karena kita bisa melakukan rehabilitasi secara mandiri “ ujarnya ketika ditanya mengenai manfaat dari pendampingan yang diterima selama ini.